Generasi milenial kerap dicap boros, gemar belanja, dan tak bisa lepas dari tren. Dari kopi susu viral, konser musik internasional, sampai belanja online tengah malam—semuanya melekat pada citra mereka. Namun, di balik stigma itu, tersimpan fakta besar: pola konsumsi milenial kini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan bisnis modern di Indonesia.
Para pelaku usaha mulai menyadari, perubahan perilaku generasi ini bukan ancaman, melainkan peta jalan baru ekonomi. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli pengalaman, citra, dan kecepatan. Inilah yang menggeser wajah pasar nasional.
Konsumen Digital yang Tak Suka Menunggu
Teknologi telah membentuk kebiasaan belanja instan. Dari makanan, transportasi, hiburan, hingga kebutuhan rumah tangga, semua bisa diakses lewat gawai.
Berbagai proyeksi menyebutkan, pada 2030 milenial bersama Gen Z akan menyumbang sekitar setengah dari total konsumsi nasional. Sementara itu, sektor e-commerce terus tumbuh agresif, mencatatkan kenaikan dua digit setiap tahun sejak pandemi.
Belanja daring tak lagi identik dengan diskon, melainkan sudah menjadi bagian dari rutinitas hidup. Pasar pun bergerak cepat mengikuti ritme ini.
FOMO: Ketika Tren Menggerakkan Dompet
Media sosial menjadi etalase raksasa yang memicu efek domino. Produk viral, kafe baru, konser, hingga kosmetik yang ramai di lini masa kerap memancing rasa takut tertinggal—atau Fear of Missing Out (FOMO).
Riset menunjukkan, sembilan dari sepuluh konsumen di Indonesia pernah membeli produk karena terpapar konten media sosial. Sementara di kalangan milenial, lebih dari separuh mengaku terdorong oleh rekomendasi influencer.
Di titik inilah, keputusan belanja tak lagi murni rasional, melainkan dipengaruhi arus tren digital.
Lebih Pilih Kenangan daripada Kepemilikan
Jika generasi sebelumnya menargetkan rumah atau aset sejak dini, milenial justru memprioritaskan pengalaman. Jalan-jalan, wisata singkat, hingga berburu kuliner dianggap sebagai investasi emosional.
Survei menunjukkan, mayoritas milenial mengaitkan perjalanan sebagai cara menjaga kesehatan mental. Bahkan, hampir seluruh responden menyebut kuliner sebagai bagian paling berkesan dari liburan.
Bagi mereka, momen lebih bernilai daripada barang.
Konsumsi untuk Membangun Citra
Di era media sosial, identitas kerap dibangun dari apa yang dipakai, dikunjungi, dan diposting. Fenomena ini dikenal sebagai consumption for self-branding.
Laporan Indonesia Millennial Report 2024 mencatat, tujuh dari sepuluh milenial memilih produk yang bisa menunjang tampilan mereka di media sosial. Tak heran, tempat “Instagrammable”, brand estetik, hingga paket wisata visual menjadi incaran.
Sektor yang Paling Diuntungkan
Sejumlah industri menikmati lonjakan permintaan dari generasi ini:
-
Kuliner & kopi kekinian
-
Wisata & staycation
-
Fashion & identitas diri
-
Layanan digital & berlangganan
-
Kesehatan & kebugaran
Kelima sektor ini tumbuh bukan hanya karena kebutuhan, tetapi karena relevan dengan gaya hidup milenial.
Strategi Bisnis di Era Milenial
Alih-alih menghindari label konsumtif, pelaku usaha justru mulai memanfaatkannya sebagai peluang. Beberapa strategi yang terbukti efektif antara lain:
-
Adaptif terhadap tren – Produk harus cepat berubah mengikuti selera pasar.
-
Berbasis komunitas – Milenial menyukai ruang interaksi dan kebersamaan.
-
Digital & delivery ready – Kehadiran online kini wajib.
-
Ramah lingkungan – Kesadaran keberlanjutan mulai memengaruhi pilihan.
Untuk bertahan, bisnis juga dituntut rajin membaca tren, membangun merek yang komunikatif, serta menghadirkan pengalaman yang berkesan.
Gaya konsumsi milenial bukan sekadar soal belanja. Ia telah menjadi kompas baru bagi dunia usaha. Siapa yang mampu membaca arah, beradaptasi cepat, dan menyentuh emosi konsumen—dialah yang akan memimpin pasar di era ekonomi digital.
